SELAMAT DATANG di BLOG saya. SEMOGA BERMANFAAT
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan LP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan LP. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Februari 2014

LAPORAN PENDAHULUAN POST NATAL CARE

I.       Pengertian
-   Masa nifas (Puerperium) adalah
Masa setelah kelahiran placenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, yang berlangsung selama + 6 minggu.
(Sarwono Prawirohadjo, hal 122)
 -  Adalah masa pulih kembali mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil.
(Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH. hal 115)
-  Adalah merupakan waktu yang diperlukan untuk pulihnya alat kandungan pada keadaan yang normal yang berlangsung selama 6 minggu/42 hari
(Sarwono Prawirohadjo, hal 190)

II.    Etiologi
Masa nifas terjadi karena adanya proses persalinan

LAPORAN PENDAHULUAN ANTENATAL CARE



1.1 Definisi
Antenatal care atau prenatal care merupakan pengawasan sebelum anak lahir (pra kelahiran) terutama di tujukan pada anak.

1.2 Tujuan
o    Tujuan Umum
Memelihara dan meningkatkan kesehatan ibu maupun janin sesuai dengan kebutuhan kehamilan berjalan dan melahirkan bayi yang sehat.
o    Tujuan Khusus
-            Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan dan tumbuh kembang janin
-            Mendeteksi dini adanya ketidaknormalan dan komplikasi
-            Mempertahankan kesehatan fisik dan mental ibu dan bayi
-            Mempersiapkan masa nifas normal dan pemberian ASI eksklusif
-            Mempersiapkan persalinan cukup bulan, ibu dan bayi selamat dengan trauma seminimal mungkin

Jumat, 03 Mei 2013

Laporan Pendahuluan tentang Abortus


BAB II
ABORTUS

A.    Definisi
Keguguran adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Di bawah ini dikemukakan beberapa definisi para ahli tentang abortus, antara lain:
Eastman    :  abortus adalah keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana fetus belum sanggup hidup sendiri di luar uterus. Belum sanggup diartikan apabila fetus itu beratnya antara 400-1000 gram, atau usia kurang dari 28 minggu.
Jeffcoat     :  abortus adalah pengeluaran dari hasil konsepsi sebelum usia kehamilan 29 minggu, yaitu fetus belum viable by low.
Holmer      :  abortus adalah terputusnya kehamilan sebelum minggu ke 16, dimana proses plasentasi belum selesai.

B.     Etiologi
Faktor-faktor penyebabnya adalah sebagai berikut:
1.      Kematian fetus adalah faktor ovum sendiri.
2.      Faktor ibu meliputi:
a.       Adanya kelainan genetalia ibu menderita:
1)      Anomali kongenital (hipoplasia uteri, uterus, tikornis)
2)      Kelainan letak dari uteris seperti retrofeksi uteri, fiksata
3)      Tidak sempurnanya persiapan uterus dalam menanti midasi dari ovum yang sudah dibuahi, seperti kurangnya progesteron atau estrogen, endometritis, mioma sub mukosa.
4)      Uterus terlalu cepat teregang (kehamilan ganda, mola)
5)      Distorsio uterus, misalnya karena terdorong oleh tumor pelvis.
b.      Gangguan sirkulasi plasenta
Pada ibu yang menderita penyakit nefritis, hipertensi, toksemia gravidarum, anomaly plasenta, dan endarteritis oleh karena lue.

c.       Penyakit-penyakit ibu, misalnya:
1)      Penyakit infeksi yang menyebabkan demam tinggi seperti pneumonia, tifoid, pielitis, rubella, dan sebagainya. Kematian fetus dapat disebabkan toksin dari ibu atau invasi kuman atau virus pada fetus.
2)      Keracunan pb, nikotin, gas racun, alkohol, dan lain-lain.
3)      Ibu yang asfiksia seperti pada dekompensasi kordis, penyakit paru berat, anemi gravis
4)      Malnutrisi, avitaminosis dan gangguan metabolisme hipotiroid, kekurangan vitamin A, C, E, diabetes mellitus.
d.      Antagonis Rhesus
Pada antagonis rhesus, darah ibu yang melalui plasenta merusak darah fetus, sehingga terjadi anemia pada fetus yang berakibat meninggalnya fetus.
e.       Terlalu cepatnya korpus leteum menjadi atrofis atau faktor serviks, yaitu inkam potensi serviks, sevisitis.
f.       Perangsangan pada ibu yang menyebabkan uterus berkontraksi.
Misal :    Sangat terkejut, obat-obatan uterotonika, kekakuan, caparotomi dan lain-lain atau dapat juga karena trauma langsung terhadap fetus, selaput janin rusak langsung karena instrumen-benda, dan obat-obatan.

3.      Faktor Bapak
Penyakit bapak   :  pada umur lanjut, penyakit kronis
Seperti                :  TBC, anemi, delum pensasi koralis, malnutrisi, nefritis, sifilis, keracunan (alkohol, nikotin, Pb, dan lain-lain) sinar roentgen, avitaminosis.


C.    Patofisiologi
Faktor-faktor abortus
(kematian fetus, faktor ibu, faktor bapak)
¯
Perdarahan dalam desidua basalis
¯
Nekrosis jaringan sekitar
¯
Sebagian atau seluruh hasil konsepsi terlepas
¯
Uterus berkontraksi mengeluarkan produk konsepsi


 



                  Kehamilan < 8 minggu                                kehamilan 8-14 minggu
                                   ¯                                                                   ¯
            Vili korealis belum menembus                        vili korealis masuk desidua
                  Dedidua terlalu dalam
                                   ¯                                                                   ¯
         Hasil konsepsi dikeluarkan semua                  hasil konsepsi sebagian keluar
                                                                                    Dan sebagian lagi tertinggi
                                                                                            Perdarahan >>>



 


                 Resiko terhadap infeksi                             resiko kekurangan volume
      Berhubungan dengan retensi sebagian           cairan kurang dari kebutuhan tubuh
                        Atau semua pk                         berhubungan dengan perdarahan abortus
                                                                                           Atau pasca bedah



D.    Gejala Klinis Abortus
Abortus merupakan salah satu bentuk komplikasi pada kehamilan muda maka pada semua macam abortus banyak atau sedikit masih terdapat sisa tanda-tanda kehamilan. Di samping gejala keguguran sendiri yaitu perdarahan yang keluar dari uterus dan perasaan nyeri karena rahim berkontraksi ketika hasil konsepsi berusaha dikeluarkan.
1)      Pada abortus imminens semua tanda kehamilan muda masih terdapat.
2)      Pada abortus tertahan (missed abortion) uterus yang masih lebih besar dari pada keadaan tidak hamil walaupun lebih kecil dari pada yang seharusnya menurut lama amenorea.
3)      Pada abortus inkompletus uterus masih lebih besar daripada waktu hamil dan terasa lembut pada palpasi melalui vagina dan serviks terbuka.
4)      Pada abortus kompletus dapat diketahui pada pemeriksaan yang lalu terdapat tanda-tanda kehamilan muda sebelum mengalami kegugurannya.
5)      Pada abortus insipiens walaupun hasil konsepsi masih terdapat di dalam rahim sehingga uterus masih besar sesuai lama amenorea tetapi serviks sudah terbuka dan teraba kantung ketuban menonjol keluar disertai perdarahan yang banyak dan nyeri karena his.
6)      Pada abortus imminens perdarahan mula-mula sedikit berlangsung berhari-hari atau beberapa minggu. Warna darah merah segar jika baru terjadi, bila tercampir dengan darah lama warnanya berubah menjadi kecoklatan.

E.     Klasifikasi
Abortus dibagi 2, yaitu:
1)      Abortus spontan
2)      Abortus provakatus

  1. Abortus spontan
Adalah abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanik ataupun medisinalis, semata-mata disebabkan oleh faktor-faktor alamiah.
Abortus spontan dibagi atas:
a.       Abortus kompletus (keguguran lengkap) seluruh hasil konsepsi dikeluarkan (desidua dan fetus) sehingga rongga rahim kosong.
Terapi: hanya dengan uterotonika.
b.      Abortus inkompletus (keguguran bersisa): hanya sebagian dari hasil konsepsi yang dikeluarkan yang tertinggal adalah desidua atau plasenta.
Gejala    :   Amenorea, sakit perut, dan mulas-mulas, perdarahan yang bisa sedikit atau banyak dan biasanya berupa stolsel (darah beku) sudah ada keluar fetus atau jaringan.
Terapi     :   bila ada tanda-tanda syok maka berilah dulu pemberian cairan dan transfuse darah. Kemudian keluarkan jaringan secepat mungkin dengan metode digital dan kuratase, kemudian beri obat-obatan uterotonika dan antibiotika.
c.       Abortus insipions (keguguran sedang berlangsung): abortus yang sedang berlangsung dengan ostium sudah terbuka dan ketuban yang teraba, kehamilan tidak dapat dipertahankan lagi.
Terapi: seperti abortus inkompletus.
d.      Abortus iminens (keguguran membalat) : keguguran membalat dan akan terjadi dalam hal ini keluarnya fetus masih dapat dicegah dengan memberikan obat-obat hormonal dan antispasmodila serta istirahat.
Kalau perdarahan setelah beberapa minggu masih ada maka perlu ditentukan apakah kehamilan masih baik atau tidak. Kalau kehamilan 2 kali berturut-turut negatif maka sebaiknya uterus dikosongkan (kuret).
e.       Missed abortion : keadaan dimana janin sudah mati tetapi tetapi berada dalam rahim atau tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih.
Gejala     :  adanya amenorea, serviks tertutup dan perdarahan sedikit-sedikit yang berulang.
Terapi     :  berikan obat dengan maksud agar terjadi his sehingga fetus dan desidua dapat dikeluarkan, kalau tidak berhasil lakukan dilatasi dan kuratase. Hendaknya pada penderita yang diberikan tanpa dan antibiotika.
f.       Abortus habitualis (keguguran berulang): keadaan dimana penderita mengalami keguguran berturut-turut 3 kali atau lebih.
Terapi     :  pengobatan pada kelainan endometrium pada abortus ini lebih besar hasilnya dilakukan sebelum ada konsepsi daripada sesudahnya. Merokok dan minum alkohol harus dikurangi atau dihentikan.
g.      Abortus infeksiosus dan abortus septil: abortus infeksiosus adalah keguguran yang disertai infeksi genital. Abortus septik adalah keguguran disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman ke dalam peredaran darah atau perikoneum.
Terapi:
1)      Bila perdarahan banyak berikan transfuse darah dan cairan yang cukup.
2)      Berikan antibiotika yang cukup dan tepat dengan suntikan penisilin 1 juta satuan tiap 6 jam, berikan suntikan streptomisin 500 mg tiap 12 jam atau antibiotika spectrum luar lainnya.
3)      Lakukan dilatasi dan kuratase untuk mengeluarkan hasil konsepsi.
4)      Infus dan pemberian antibiotika diteruskan menurut kebutuhan dan kemajuan penderita.
5)      Pada abortus septik terapi hampir sama hanya dosis dan jenis antibiotika ditinggikan dan dipilih jenis yang tepat sesuai dengan hasil pembiakan uji kepekaan kuman.
6)      Tindakan operatik, melihat jenis komplikasi dan banyaknya perdarahan, dilakukan bila keadaan umum membaik dan panas mereda.
  1. Abortus provakalis (induced abortion): abortus yang disengaja, baik dengan memakai obat-obatan maupun alat-alat, abortus ini terbagi menjadi:
a.       Abortus medisinalis (abortus hierapeutica)
Adalah abortus karena tindakan kita sendiri dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan dapat membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis) biasanya perlu mendapat persetujuan 2-3 tim dokter ahli.
b.      Abortus kriminalis
Adalah abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis.


F.     Komplikasi Abortus
1.      Perdarahan (hemorrhage)
2.      Perforasi: sering terjadi sewaktu dilatasi dan kuratase yang dilakukan oleh tenaga yang tidak ahli seperti bidan dan dukun.
3.      Infeksi dan tetanus
4.      Payah ginjal akut
5.      Syok, pada abortus dapat disebabkan oleh:
a.       Perdarahan yang banyak disebut syok homorogik.
b.      Infeksi berat atau sepsis disebut syok septik atau endoseptik.

Rabu, 10 April 2013

Laporan Pendahuluan Persalinan Normal


 Laporan Pendahuluan Persalinan Normal

BAB 1
TINJAUAN TEORI

I.              DEFINISI
ü  Adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar.
(Kapita Selekta Kedoktera, Bab 37. hal. 291.1999)
ü  Adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37 – 42 minggu). Lahir spontan dengan presentasi belakang yang berlangsung 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin.
(Pelayanan Kesehatan dan Neonatal, YBP-SP. 2002. hal. 100)
ü  Adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar.
(Ilmu Kebidanan, YBP-SP. 2002. hal 180)
ü  adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin + uri) yang dapat hidup ke dunia luar, dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain.
(Sinopsis Obstetri, Jilid I, 1998. hal. 91)
ü  Adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan pengeluaran placenta dan selaput janin dari tubuh ibu.
(Obstetri Fisiologi, UNPAD. Hal. 221)
ü  Adalah proses alamiah dimana terjadi dilatasi serviks, lahirnya bayi dan plasenta dari rahim ibu.
(APN, Jakarta. 2004. hal 2-1)

Laporan Pendahuluan Masa Nifas


LAPORAN PENDAHULUAN
MASA NIFAS

I.         PENGERTIAN
Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil, lama masa nifas ini yaitu 6-8 minggu. Nifas dibagi dalam 3 periode:
1.      Puerperium Dini
Yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan
2.      Puerperium Intermedial
Yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetial yang lamanya 6-8 minggu.
3.      Remote Puerperium
Adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna, terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.

II.      Perubahan-Perubahan Dari Alat Badan Pada Masa Nifas
Dalam masa puerperium terdapat 2 kejadian penting yaitu Involusi Uterus dan Laktasi.
Involusi Alat-alat Kandungan
1.      Uterus
Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil, sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil.
Involusi
Tinggi Fundus Uterus
Berat Uterus
Bayi lahir
Uri lahir
1 minggu
2 minggu
6 minggu
8 minggu
Setinggi pusat
2 jari dibawah pusat
Pertengahan pusat simfisis
Tidak teraba diatas simfisis
Bertambah kecil
Sebesar normal
1000 gram
750 gram
500 gram
350 gram
50 gram
30 gram
2.      Bekas Implantasi Uri
Pada permulaan nifas bekas plasenta mengandung banyak pembuluh darah besar yang tersumbat oleh thrombus. Placenta bed mengecil karena kontraksi dan menonjol ke kavum uteri. Sesudah 2 minggu uterus sebesar 3-4 cm dan pada akhir nifas 1-2 cm.
3.      Pembuluh Darah Rahim
Setelah proses persalinan tidak diperlukan lagi peredaran darah yang banyak sehingga arteri harus mengecil lagi dalam nifas.
4.      Cervix dan Vagina
Beberapa hari setelah persalinan ostium externum dapat dilalui 2 jari, pada akhir minggu pertama hanya dapat dilalui 1 jari saja. Pada cervix terbentuk sel-sel otot baru. Setelah involusi selesai, ostium externum pada umumnya lebih besar dan tetap ada retak-retak dan robekan pada penggirnya terutama pinggir samping. Karena robekan kesamping ini akhirnya terbentuk bibir depan dan bibir belakang dari cervix.
Vagina lambat laun mencapai ukuran-ukurannya yang normal. Pada minggu ke 3 postpartum rugae mulai tampak kembali.
5.      Dinding Perut dan Peritoneum
Dinding perut biasanya akan pulih kembali dalam 6 minggu.
6.      Saluran kencing
Kandung kencing dalam masa puerperium kurang sensitive dan kapasitas bertambah, sehingga kandunbg kencing penuh atau sesudah kencing masih tinggal urine residual
Dilatasi ureter dan pyelum akan normal kembali dalam waktu 2 minggu.
7. Ligamen-Ligamen
Ligamen, Fasia dan Diafragma Pelvis yang meregang pada waktu persalinan, setelah bayi lahir secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali. Untuk memulihkan kembali sebaiknya dengan latihan-latihan dan gyimnastik pasca persalinan.
8. Lochea
Lochea adalah cairan sekret yang berasal dari kovum uteri dan vagina dalam masa nifas.
a.       Lochea Rubra: berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, verniks caseosa, lanugo dan makonium, berlangsung 2 hari pasca persalinan
b.      Lochea Sanguinolenta: berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, berlangsung hari ke 3-7 pasca persalinan.
c.       Lochea Serosa: berwarna kekuningan, berlangsung pada hari ke 7-14 pasca persalinan.
d.      Lochea Alba: berwarna putih, berlangsung setelah harti ke 14 pasca persalinan
v  Pengeluaran lochea yang menunjukkan keadaan abnormal:
a.       Perdarahan berkepanjangan.
b.      Pengeluaran lochea tertahan (lochea statika).
c.       Lochea purulenta, berbentuk nanah.
d.      Rasa nyeri yang berlebihan
e.       Dengan memperhatikan bentuk perubahan dapat diduga adanya kelainan.
f.       Terdapat sisa placenta yang merupakan sumber perdarahan.
g.      Terjadi infeksi intra uteri.

B.     Laktasi
Keadaan buah dada pada 2 hari pertama nifas sama dengan keadaan dalam kehamilan. Pada waktu ini buah dada belum mengandung air susu, melainkan colostrum. Colostrum adalah cairan kuning yang terdiri dari albumin, colostrum lebih banyak mengandung protein dan garam, gulanya sama tetapi lemaknya berkurang dibanding dengan air susu.
Sebab-sebab Laktasi:
Progesteron dan estrogen yang dihasilkan placenta, merangsang pertumbuhan kelenjar-kelenjar susu, sedangkan progesteron merangsang pertumbuhan saluran kelenjar. Setelah placenta lahir, maka LTH dengan bebas dapat merangsang laktasi. Lobus posterior hipofise mengeluarkan oxytocin yang merangsang pengeluaran air susu. Pengeluran air susu adalah refleks yang ditimbulkan oleh rangsangan penghisapan puting susu oleh bayi. Rangsangan ini menuju ke hipofise dan menghasilkan oxytocin yang menyebabkan buah dada mengelurkan air susu.
Pada kira-kira hari ke 3 postpartum, buah dada menjadi besar, keras dan nyeri. Hal ini merupakan tanda permulaan sekresi air susu dan jika areola mamae dipijat keluarlah cairan putih dari susunya.
Susunan air susu:
-          Protein 2 %
-          Lemak 5 %
-          Gula 8 %
-          Garam 0,2 %
v  Perubahan-perubahan pada kelenjar mamae, yaitu:
a.       Proliferasi jaringan pada kelenjar-kelenjar, alveoli dan jaringan lemak bertambah.
b.      Keluar cairan susu jolong (colostrum) dari duktus lactiferus berwarna kuning putih susu.
c.       Hipervaskularisasi pada permukaan dan bagian dalam, dimana vena-vena berdilatasi sehingga tampak jelas.
d.      Setelah persalinan, pengaruh supresi estrogen dan progesteron hilang, maka timbullah pengaruh hormon laktogenik (LH) atau prolaktin yang akan merangsang air susu. Disamping itu, pengaruh oksitosin yang menyebabkan mio epitel kelenjar susu berkontraksi sehingga air susu keluar. Produksi akan banyak sesudah 2-3 hari pasca persalinan.

III.   PERAWATAN PASCA PERSALINAN
1.      Mobilisasi
Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, tidur terlentang selama 8 jam pasca persalinan kemudian boleh miring kiri- miring kekanan. Pada hari ke 2 diperbolehkan duduk, hari ke 3 jalan-jalan dan hari ke 4 atau ke 5 diperbolehkan pulang. Mobilisasi bergantung pada komplikasi persalinan, nifas dan sembuhnya luka-luka.
2.      Diet
Makanan ibu nifas harus bergizi dan cukup kalori. Sebaiknya makan-makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan buah-buahan.
3.      Miksi
Kencing dapat dilakukan sendiri dan dalam waktu secepatnya. Kadang-kadang wanita mengalami sulit kencing dan sebaiknya dilakukan kateterisasi.
4.      Perawatan Payudara
Perawatan mamae telah dimulai sejak wanita hamil agar putting susu lemas, tidak lemas dan kering sebagai persiapan untuk menyusui bayinya.
5.      Pemeriksaan Pasca Persalinan
Pemeriksaan post natal, antara lain meliputi:
a.       Pemeriksaan umum: tekanan darah, nadi, keluhan, dsb.
b.      Keadaan umum: suhu badan, selera makan, dll.
c.       Payudara: ASI, puting susu.
d.      Dinding perut, perineum, kandung kemih, rectum.
e.       Secret yang keluar, misalnya lochea, Fluor Albus.
f.       Keadaan alat-alat kandungan.

IV.             NASEHAT IBU POST NATAL
Nasehat untuk ibu post natal:
1.      Sebaiknya bayi disusui
2.      Melakukan senam nifas
3.      Untuk kesehatan ibu, bayi dan keluarga sebaiknya melakukan KB untuk menjarangkan anak.
4.      Bawalah bayi anda untuk memperoleh imunisasi.

DAFTAR PUSTAKA

& Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta : Media Aeuculapius
& Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : EGC
& Manuaba, Ida Bagus Gde. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC